Thursday, October 28, 2004

Cermin Burung Pipit

Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor burung pipit mulai merasakan
tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak
bersahabat.

Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi
habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udaranya selalu
dingin dan sejuk.

Benar, pelan pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin
sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.

Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju,
makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya
terbungkus salju.

Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si
burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah
tamat.

Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor kerbau
yang kebetulan lewat menghampirinya. Namun si burung kecewa mengapa yang
datang hanya seekor kerbau. Dia menghardik si kerbau agar menjauh dan
mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk
menolongnya.

Si kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat di
atas burung tersebut. Si burung pipit semakin marah dan memaki maki si
kerbau. Lagi-lagi si kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan
mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si burung tidak
dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa
mati tak bisa bernapas.

Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada
bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas
lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si burung pipit berteriak
kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber
suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang
nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih
menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, si burung bernyanyi dan
menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik
hati.

Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita
bagi si burung, dan tamatlah riwayat si burung pipit ditelan oleh si kucing.

Hmm... tak sulit untuk menarik garis terang dari kisah ini, sesuatu yang
acap terjadi dalam kehidupan kita: halaman tetangga tampak selalu lebih
hijau; penampilan acap menjadi ukuran; yang buruk acap dianggap bencana dan
tak melihat hikmah yang bermain di sebaliknya; dan merasa bangga dengan
nikmat yang sekejap. Burung pipit itu adalah cermin yang memantulkan wajah
kita...