Sunday, December 05, 2004

Diantara Senandung Cinta dan Luka



1.
Berhari-hari hingga bertahun tahun aku sendiri sudah berada disini,
di sebuah tempat terpencil, yang telah mendewasakan aku dan pikiranku,
di sebuah tempat yang kuisi hidup ini hanya dengan kegiatan kampus,
disebuah tempat yang banyak mengajarkan aku arti hidup,
disebuah tempat dimana aku mulai mengharapkan kehadiran seorang teman sejati,
untuk menjalani semua perjuangan ini.

Disebuah tempat dimana aku mulai mengenangnya,
disebuah tempat dimana aku mulai memikirkan wajahny.
Dan waktu telah berbisik kepadaku,
"nampaknya kamu mulai jatuh cinta padanya......."

Kepada impianku yang menjadi teman hidupku aku sering bertanya,
"Salahkah aku mencintainya? "
Tak ada jawaban......sunyi, dan impiaku mendadak bisu padaku.

Rasa sombong dan angkuh sering mengisi sebuah titik di pojok hati,
dimana aku harus mengakui dan kadang menyangkal, apakah aku mencintainya
sebagai seorang teman lelaki terhadap teman perempuannya,
atau sebagai seorang saudara lelaki terhadap sudara perempuannya,
Jika ini adalah awal dari sebuah kesalahan,
Bantu aku untuk melupakan sejenak hingga tiba suatu masa nanti.


2.
Dan aku tersadar bahwa aku tak boleh hanyut dalam rasionalitasku sendiri
Harus kubawa namanya dalam istikharahku yang panjang,
Harus kuadukan pada Sang Maha Pembuat Rencana,
aku akan menangis, apakah ini semua adalah bisikan hatiku,
atau hanya sekedar untuk menggapai impian sesaat.......
jangan biarkan aku mendzalimi perjalanan hidupku,
juga perjalanan hidupnya.

Tapi aku butuh juga seorang teman sejati.
Seorang yang mau melebur jauh ke dalam kesederhanaan hidupku,
seorang teman sejati yang mau tetap berjalan di sampingku,
yang mampu menopang tongkat rapuh dalam jiwaku.
Dan dalam rasa percayaku atau entah impian sesaatku,
aku yakin ia mampu melakukan itu semua"


3.
Walau pada akhirnya, aku akan tahu,
ia akan menolak bisikan hatiku atau impian sesaatku……
sehingga akan kucari setumpuk alasan agar aku membencinya atau
aku akan membenci diriku sendiri.
Meski terluka, amat pedih,
dan aku tak bisa memaksanya untuk masuk dalam rasionalitasku.

Walau pada akhirnya aku tahu ia tak luka,
atau mungkin tak pernah membawa namaku dalam istikharah panjangnya,
karena duniaku dan dunianya berbeda.
Aku ikhlas menerima kenyataan ini.
Betapa, meski luka, aku harus mengerti.

Maafkan, aku telah mengganggu mimpimu....

4.
Hingga detik ini aku tetap tak tahu.
Tapi, aku kemudian juga harus berbesar hati.
Sehingga masih banyak kesempatan dan harapan akan datang,
seorang teman sejati yang lebih sempurna,
yang akan diisyartkan lewat cinta-Nya.

Maafkan aku [pernah] mencintaimu!